Tanya Jawab #3

VAKSIN DTP DAN DTP-HB

1. Mengapa setelah imunisasi DTP timbul demam ?
Demam timbul sebagai reaksi tubuh terhadap vaksin yang disuntikan, terutama komponen pertusis dalam vaksin DTP. Ada 2 jenis vaksin DTP, yaitu yang aselular (DTaP) dan whole cell(DTwP). Pemberian DTwP 40-75% akan menimbulkan demam terutama 24 jam pertama setelah imunisasi. Hal ini dapat dikurangi dengan pemberian obat penurun panas segera setelah imunisasi.

2. Apakah vaksin ini boleh diberikan pada anak dengan penyakit kejang demam ?
Untuk bayi dengan riwayat kejang demam dianjurkan untuk memakai vaksin DTaP.

3. Bila bayi tidak demam setelah imunisasi dengan vaksin DTP apakah berarti vaksin tidak efektif ?
Tidak. Reaksi yang ditimbulkan sifatnya sangat individual. Tidak semua bayi yang menerima vaksin DTP akan mengalami demam, 25-60% diantaranya tidak akan demam.

VAKSIN CAMPAK

1. Anak saya sudah diimunisasi Campak pada usia 9 bulan, tapi ketika usia 5 tahun dia mendapat penyakit Campak, kenapa hal ini bisa terjadi ?
Vaksinasi yang diberikan pada usia di bawah 1 tahun tidak akan memberikan proteksi yang lama, sehingga harus disusulkan dengan pemberian second opportunity (booster). Di Indonesia anjuran imunisasi Campak adalah pada usia 9 bulan, karena di Indonesia kejadian penyakit Campak masih tinggi, sedangkan kematian lebih banyak terjadi pada anak di bawah 1 tahun, sehingga walaupun tidak memberikan proteksi yang lama, pemberian imunisasi campak pada bayi usia 9 bulan diharapkan dapat menurunkan angka kematian. Disamping itu, ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala mirip dengan penyakit Campak. Sehingga akan lebih baik bila menderita gejala seperti penyakit Campak dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium, sebagai diagnosa pasti.

2. Anak saya sudah pernah mendapat penyakit Campak, apakah perlu diimunisasi lagi ?
Ada beberapa penyakit dengan gejala yang mirip dengan penyakit Campak. Bila ada konfirmasi laboratorium bahwa saat itu anak anda menderita penyakit Campak, maka tidak perlu dilakukan imunisasi Campak. Tapi bila anda tidak yakin dengan hal tersebut, sebaiknya tetap dilakukan imunisasi.

VAKSIN BCG

1. Anak saya ketika bayi sudah mendapat imunisasi BCG, tapi kenapa sekarang setelah usia 7 tahun oleh dokter dinyatakan menderita TBC , dan harus diterapi selama 6 bulan ?
Efektifitas vaksin BCG sampai saat ini masih dalam perdebatan para ahli. Ada yang menyatakan efektifitasnya mempunyai range yang sangat lebar antara 0 – 80%. Tetapi yang diyakini oleh para ahli adalah vaksinasi BCG mampu mencegah kejadian penyakit TBC berat seperti meningitis, TBC diseminata dll.

2. Dokter menjadwalkan bayi saya untuk imunisasi BCG pada usia 1 bulan, tetapi ketika itu kami keluar kota dan baru bisa ke dokter lagi saat anak saya usia 4 bulan, tapi dokter malah meminta agar anak saya di rontgen dulu, kenapa demikian ?
Sebenarnya imunisasi BCG sebaiknya diberikan pada usia 0-1 bulan, atau maksimal 2 bulan. Bila lebih dari 2 bulan, diperkirakan anak sudah kontak dengan dunia luar, dan dikhawatirkan telah terinfeksi kuman TBC, sehingga makanya perlu dirontgen dulu.

SU THIMEROSAL

1. Apakah vaksin Bio Farma mengandung thimerosal ?
Ya, sampai saat ini beberapa vaksin Bio Farma masih menggunakan thimerosal, karena sangat diperlukan, apalagi pada kemasan yang multi dosis. Dan hingga saat ini belum ada yang dapat membuktikan korelasi antara autisme dengan thimerosal. The Strategic Advissory Group of Experts (SAGE) yang dibentuk oleh Direktur Jenderal WHO menyimpulkan bahwa berdasarkan review yang dilakukan tidak ada bukti efek toksis dari thimerosal baik pada bayi, anak-anak dan orang dewasa, sehingga tidak ada alasan untuk melarang penggunaan vaksin yang mengandung thimerosal.

2. Apakah benar thimerosal pada vaksin menimbulkan autisme, mohon penjelasan.
Tidak benar. Pertama, sebuah studi epidemiologi besar dilakukan di Amerika Serikat dan Denmark menemukan bahwa anak yang menerima vaksin mengandung thimerosal tidak mempunyai risiko lebih untuk menderita autisme dibanding dengan anak yang tidak menerima vaksin yang mengandung thimerosal. Yang kedua, studi terhadap tikus yang diyakini menunjukkan bahwa tikus suseptibel terhadap penyakit autoimun setelah menerima thimerosal tidak dapat diterima. Manusia bukan tikus, dan autisme bukan penyakit autoimun. Ketiga, bahaya penyakit yang ditimbulkan bila tidak divaksinasi sangat fatal , penolakan imunisasi dengan vaksin yang mengandung thimerosal tidak akan menurunkan risiko autisme, malah anak akan terancam penyakit yang mematikan. Keempat, konsentrasi thimerosal pada vaksin sangat kecil, jauh lebih kecil dari yang diperoleh oleh tubuh dari makanan laut yang tercemar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: