HARI KESEHATAN DUNIA 2010 (1000 CITIES 1000 LIVES)

Lebih dari 3 juta jiwa penduduk di dunia hidup di wilayah perkotaan. Di tahun 2007 untuk pertama kali dalam sejarah, laju pertambahan populasi penduduk hidup di perkotaan telah melampaui 50%, dan proporsi ini akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang. Diproyeksikan pada tahun 2030, 6 dari 10 orang akan menjadi penghuni daerah perkotaan dan akan meningkat menjadi 7 dari 10 orang di tahun 2050. Di Indonesia, tahun 2009, lebih dari 43 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan menurut prediksi pada tahun 2025 lebih dari 60 persen populasi akan tinggal di pusat kota. Sebagai akibatnya, pemerintah kota menghadapi tantangan besar; keberhasilan menghadapi tantangan itu sangatlah penting bagi kelangsungan Indonesia, dan juga pertumbuhan ekonomi serta pengurangan kemiskinan. Di tahun 1999, dua dari lima kota di Indonesia termasuk miskin; dalam dekade berikutnya, urbanisasi akan membawa masyarakat menuju daerah kumuh di kota (tahun 1999, sumber World Bank 2002). Laju urbanisasi tidak terhindarkan lagi dan telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita sekarang ini.

Pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia tahun 2010, WHO mengangkat tema “ Urbanisasi dan Kesehatan” sedangkan untuk tema nasional HKS yaitu : “Dengan hari Kesehatan Sedunia 2010 kita sehatkan kota dan warganya” untuk mengingatkan kepada kita tentang dampak urbanisasi terhadap kesehatan kita baik secara global maupun individual. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang masih menunjukkan lonjakan yang cukup fenomenal, terutama penduduk kota di negara-negara berkembang menimbulkan berbagai masalah, seperti kepadatan lalu-lintas, pencemaran udara, perumahan yang kurang sehat dan pelayanan masyarakat yang kurang layak termasuk kriminal, kekerasan dan penggunaan obat-obat terlarang menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan.

Sementara itu, jumlah kendaraan bermotor pun terus meningkat. Antara tahun 2000 dan 2003, jumlah kendaraan di seluruh Indonesia bertambah sekitar 12% setiap tahunnya (Departemen Perhubungan, BPS 2004). Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat pencemar berbahaya, seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan oksida nitrogen (NOx). Selain dampak kesehatan masyarakat dan lingkungan perkotaan, emisi dari sarana transportasi turut berkontribusi terhadap dampaknya bagi atmosfer, seperti deposisi asam, penipisan ozon di stratosfer, dan perubahan iklim global.

Salah satu isu besar dalam permasalahan pengelolaan  lingkungan perkotaan adalah air minum dan sanitasi. Di Indonesia, permasalahan ini ditandai dengan akses dan kualitas pelayanan yang buruk. Lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman, dan lebih dari 70 persen dari 220 juta tergantung pada sumber yang terkontaminasi. Sensus sosial-ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 mencatat bahwa hanya 47 persen penduduk yang dapat mengakses air minum dari sumber yang aman (jumlah ini termasuk 42 persen penduduk di perkotaan). Selama periode 8-tahun (dari 1994 sampai 2002), angka ini meningkat hingga 9 persen di perkotaan.

Terkait masalah kesehatan masyarakat di wilayah perkotaan, tercatat pada usia di atas 5 tahun, baik di wilayah kota dan desa, lima besar penyebab kematian masih dipegang oleh penyakit degeneratif. Yakni, stroke (19,4%), diabetes mellitus (9,7%), hipertensi (7,5%), TB (7,3%) dan penyakit jantung untuk wilayah perkotaan. Sementara di desa adalah, stroke, TB, hipertensi, penyakit saluran anfas bawah dan tumor ganas. (Sumber data : Laporan Riskesdas 2007, DEPKES RI). Penyakit tidak menular tidak hanya saja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang tetapi juga di negara sedang berkembang. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya umur harapan hidup, telah dapat diatasinya beberapa jenis penyakit menular dan makin tingginya paparan faktor risiko seperti perilaku (kebisaan) merokok dan minum alkohol, pola aktifitas fisik (kurang olah raga), pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat, serta adanya kondisi lingkungan yang merugikan kesehatan seperti pencemaran udara serta rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Langkah-langkah antisipasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosial kota sudah saatnya dilakukan. Upaya tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab semua pihak.

Hari Kesehatan Sedunia pada tahun ini di maksudkan untuk menarik perhatian dunia pada topik urbanisasi dan dampaknya pada kesehatan masyarakat dengan menjalin kerjasama komitmen pemerintah daerah, organisasi internasional, swasta, organisasi kemasyarakatan dalam upaya pengarusutamaan penangangan masalah kesehatan masyarakat dalam program unggulan daerah.

Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: