Perilaku Vaksinator yang Berhubungan dengan Kepatuhan terhadap Standar Pelayanan Imunisasi

Perilaku Vaksinator yang Berhubungan dengan Kepatuhan terhadap Standar Pelayanan Imunisasi di Kabupaten Oku Tahun 2006 Oleh Desi Kurnia Sari, Rusmini Wiyati, Lisdahayati, Zulicha Dyah dan Suharmasto Dinas Kesehatan Kabupaten OKU

Program imunisasi mempunyai daya ungkit besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat, karena sebagian besar angka kematian bayi dapat dicegah dengan intervensi imunisasi. Tujuan program Imunisasi adalah turunnya angka kesakitan,kecacatan dan kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), seperti TBC,Difteri,pertusis, tetanus, Hepatitis B, Polio dan campak.

Cakupan imunisasi di Kab. OKU tahun 2004 telah cukup tinggi (95%), namun tidak sinkron dengan kasus PD3I dan angka Drop Out Imunisasi yang masih tinggi. Angka DO cakupan imunisasi lengkap di Kab OKU sebesar 14% sedangkan target <10% Tingginya cakupan tidak cukup untuk mencapai tujuan akhir program imunisasi. Cakupan yang tinggi harus disertai dengan mutu program imunisasi yang tinggi pula. Untuk meningkatkan mutu program imunisasi, maka perlu diketahui faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan vaksinator terhadap standar pelayanan imunisasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku vaksinator yang berhubungan dengan kepatuhan vaksinator terhadap standar pelayanan imunisasi di Kab OKU tahun 2006. Informasi yang dihasilkan dapat bermanfaat sebagai dasar menyusun strategi intervensi peningkatan mutu pelayanan imunisasi sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penurunan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi yang diakibatkan oleh PD3I.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata tingkat kepatuhan vaksinator terhadap standar pelayanan imunisasi masih rendah, hanya sebesar 66% dan belum memenuhitarget Depkes (80%). Berdasarkan rata-rata tingkat kepatuhan tersebut,maka hanya 53% vaksinator yang patuh terhadap standar pelayanan imunisasi.Tingkat kepatuhan yang paling tinggi adalah pada variabel safe injectie (78%), anamnesa (71%), proses penyuntikan (69%), dan yang paling rendah adalah pada pemberian penyuluhan perorangan kepada ibu bayi pada saat memberikan pelayanan imunisasi(25%).

Faktor predisposing vaksinator yang dapat disimpulkan adalah usia rata-rata 33 tahun dengan usia termuda 19 tahun dan usia tertua 52 tahun, rata-rata pengalaman kerja selama 9 tahun, paling cepat 1 tahun dan paling lama 19 tahun, mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, status kepegawaian responden yang terbanyak adalah PNS,selebihnya secara berturut-turut adalah PTT, Honda(honor daerah) dan TKS (tenaga kerja sukarela). Dari ketiga lokasi tempat tugas responden, yang terbanyak adalah bekerja di puskesmas pembantu atau sebagai bidan desa. Berdasarkan jenis pendidikan ternyata ditemukan adanya vaksinator yang bukan paramedic(6%). Berdasarkan tingkat pengetahuan ternyata masih ada responden yang kurang memahami tentang imunisasi yaitu sebanyak 39%.Pemahaman tentang imunisasi yang digali pada saat wawancara adalah tentang jadwal imunisasi, dosis,efek samping, kontraindikasi ,sakit ringan yang boleh diimunisasi serta hal yang dapat merusak vaksin. Mayoritas responden telah memahami secara baik tentang jadwal dan dosis imunisasi, namun masih sangat sedikit sekali yang memahami tentang kontraindikasi vaksin serta bolehnya sakit ringan diimunisasi. Lebih dari sebagian responden penelitian bersikap positif terhadap standar imunisasi.

Berdasarkan faktor enabling yang diteliti yaitu kelengkapan sarana, hanya 53% vaksinator yang telah telah memanfaatkan sarana imunisasi secara optimal seperti memanfaatkan buku desa, safety box, spuit yang sesuai dengan rekomendasi dari WHO, termos dan batu es/coldpack. Selanjutnya berdasarkan faktor reonforsing dapt disimpulkan bahwa hamper sebagian vaksinator belum pernah mendapat pengarahan dari pimpinan puskesmas tentang quality assurance dan dafar tilik pelayanan imunisasi serta belum pernah mendapat supervise dari pimpinan puskesmas tentang quality assurance pada saat pelayanan imunisasi baik di posyandu atau puskesmas pembantu. Mayoritas vaksinator belum pernah dilatih baik pelatihan teknis imunisasi maupun pelatihan quality assurance (94%).

Dari hasil uji bivariat ternyata tidak ada hubungan yang bermakna antara ukur, pendidikan, jenis kelamin, tempat tugas, jenis kepegawaian, pengetahuan, sikap dan perilaku serta penghargaan dengan kapatuhan terhadap standar pelayanan imunisasi. Sedangkan variabel yang berhubungan adalah variabel pengalaman kerja , kelengkapan sarana,supervise dan pengarahan dari atasan.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan imunisasi maka disarankan kepada vaksinator untuk bekerja sesuai dengan standard an meningkatkan penyuluhan imunisasi. Supervise dan pengarahan dari atasan tentang mutu pelayanan imunisasi sangat dianjurkan. Sedangkan bagi pengelola program imunisasi di kabupaten perlu mengadakan pelatihan quality assurance program imunisasi yang terakreditasi, pengadaan sarana imunisasi serta memberdayakan incinerator yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten OKU . menjadikan mutu program imunisasi sebagai indicator kinerja pimpinan puskesmas dapat dijadikan sebagai suatu kebijakan dari Kadinkes.

Sumber : Klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: